Memaknai Cinta Yang Sesungguhnya

Beberapa waktu yang lalu, sepulang mengantar istri ke kuliah, saya menaiki Bis 939 jurusan Hay Asyir. Bisnya lumayan penuh, tidak ada tempat untuk duduk. Dalam keramaian tersebut saya bertemu dengan Ziyad.

Ziyad adalah salah seorang teman dekat saya. ia baru menyempurnakan setengah agamanya. Saya turut hadir dalam acara pernikahannya dan ikut merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.

Sudah begitu lama kami menjalin ukhuwah. Itu berawal saat pertama kali saya bertemu dengannya ketika shalat di mesjid dekat apartemen saya. Pertemuan pertama memberi kesan yang kuat dalam hati saya, dari tutur kata, keramahan dan sikapnya membuat saya kagum dan tertarik untuk lebih jauh mengenalnya. Hingga pada akhirnya terjalinlah hubungan yang erat diantara kami.

Ia saya kenal sebagai seorang yang taat menjalankan agama. Di kalangan teman-teman, ia dikenal supel dan simpatik. Kata-katanya selalu memompa semangat yang lagi kendor, tak heran banyak yang datang padanya kalau lagi futur. Bijak memilih kata-kata sebelum diucapkan dan yang paling membuat saya merasa salut, ia setiap hari selalu menyediakan waktu untuk berziarah. Full aktivitas, kendati demikian, ia tak pernah kehilangan kesempatan shalat berjama’ah di mesjid, shaf terdepan dan takbir pertama bersama imam.

Walau telah menikah, shalat jama’ah tak pernah absen dan untuk berziarah selalu ada waktu yang ia sediakan.

Saya masih ingat dengan kata-kata yang ia ucapkan pada saya sebelum hari pernikahannya, ketika saya bertanya padanya tentang makna sebuah cinta. Ia berkata,

“Akhi, dari lubuk hati yang paling dalam, dengan jujur saya lebih mencintai Allah, RasulNya dan jihad dijalanNya. Kecintaan yang melebihi kecintaan saya atas segalanya, atas kedua orang tua dan diri saya sendiri.

Saya menikah semata-mata hanya karena Allah, untuk Allah dan mengharap ridha dan pahala dari Allah.

Saya mendambakan seorang istri yang solehah, yang membantu saya dalam ketaatan dan kebaikan. Ketika saya benar, ia tidak ragu untuk mendukung saya, ketika saya salah, ia tidak segan, malu dan takut untuk menegur dan mengingatkan saya dengan cara yang baik, lembut dan penuh kebijaksanaan.

Seorang istri yang ketika saya melihat padanya, hati saya merasa tenang, ketika saya perintah ia patuh, ketika saya tinggalkan, ia menjaga harta dan dirinya. Seorang istri yang mencintai saya sepenuhnya yang selalu mengharap ridha saya dan yang menyerahkan pengabdian hidupnya pada saya.

Seorang istri yang bersegera ketika saya ajak pada kebaikan dan ikhlas menerima perbaikan ketika ternyata ia telah keliru dan salah.

Namun, bila istri tidak patuh pada saya, mengangkat suara dihadapan saya, meninggikan diri dihadapan saya, selalu lambat ketika saya ajak pada kebaikan dan ketaatan, lalai dengan tugas dan tanggung jawab serta enggan dinasehati.

Terlena dengan kehidupan duniawi. Lebih mencintai dunia dari pada akhirat, tidak patuh pada perintah Allah dan RasulNya, dan tidak mendukung saya ketika saya benar, tidak mengingatkan ketika salah dan tidak mau menerima nasehat.

Maka, ketahuilah akhi, saya ikhlas berpisah dengannya dan saya tidak akan ragu dan takut sedikitpun untuk menceraikannya, walau ia cantik sekalipun. Saya yakin dengan janji Allah, bahwa Allah pasti akan memberi saya ganti yang lebih baik. Rahmat Allah maha luas, khazinah Allah tidak akan pernah habis dan tidak sulit bagi Allah untuk itu.”

Dan pertemuan di Bis tersebut adalah kesempatan bagi saya untuk memintanya bercerita tentang keadaannya saat ini dan sayapun bertanya, “Apakah akhi telah menemukan bidadari impian akhi?” ia menjawab,

“Alhamdulillah akhi, innaha lani’ma zaujah, Allah telah mengabulkan proposal yang saya ajukan sejak tiga tahun yang lalu, persis seperti yang saya minta dalam do’a saya pada Allah. Saya bersujud syukur pada Allah, Allah telah mengaruniakan saya seorang bidadari berhati embun, cahaya dan pelangi. Keindahan diatas keindahan.”

“Barakallahu laka wa Baraka ‘alaika wajama’a Bainakuma fikhairin Akhi Ziyad.”

Bila kita tengok kebelakang, para salafus soleh telah membuktikan cinta mereka pada Allah dan RasulNya.

Anas r.a berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Tiga hal yang jika terdapat dalam diri seorang muslim, maka dia akan dapat merasakan manisnya iman, yaitu: 1. Mencintai Allah dan RasulNya melebihi kecintaan dari segalanya, 2. Mencintai seseorang semata-mata karena Allah, 3. Benci untuk kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan kedalam neraka.”

Suatu ketika Umar bin khatab berkata, “Wahai Rasulullah, saya mencintaimu lebih dari segalanya kecuali nyawa saya, kemudian Nabi bersabda, “Seseorang tidak akan menjadi mukmin yang sempurna sebelum dia lebih mencintai aku dari pada dirinya sendiri, lalu Umar berkata lagi, “Sekarang saya mencintai engkau lebih dari diri saya sendiri, Beliau bersabda, “Sekarang ya Umar ( sudah sempurna keimananmu ).

Sungguh sangat banyak kisah kecintaan para salafus soleh pada Allah, Rasul dan semangat mereka berkorban dijalan Allah yang terukir dalam sejarah. Mereka generasi terbaik umat ini. Generasi pilihan yang diabadikan namanya dalam Al-Qur’an. Setiap lembar sejarah senantiasa menempatkan mereka pada urutan pertama dalam kemuliaan dan pengorbanan.

Nah, sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, kemudian jawablah dengan jujur, “Apakah saya telah mencintai Allah dan RasulNya melebihi atas segalanya?”.

marif_assalman@yahoo.com

1 Comment

  1. Khoyr jiddan akhi…BAROKALLOHU LAK WA MAALUK WA AHLUK BAYNANA BIKHOIR BIROHMAATILLAH…amiin


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s