TERIMA KASIH

Assalamu’alaikum Wr Wb,
Alhamdulillah..segala puji hanya milik Alloh, dialah raja diraja, yang menguasai alam semesta, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat dan Salam semoga tetap tercurah kepada junjungan Rasulullah SAW, suri tauladan terbaik bagi kita, ummat manusia.
Kali ini penulis ingin sedikit mengutarakan tentang suatu kata yang sangat ringan dan mudah sekali, namun terkadang sangat berat dan bahkan jarang di lakukan oleh kita. Kata tersebut adalah ” TERIMA KASIH”.
” Terima kasih”…..Ya hanya kata terima kasih. Sangat ringan bukan ? tapi kata itu memiliki arti yang luas dan juga mempunyai implikasi yang besar dalam kehidupan ini.
Dalam sebuah reality show di salah satu stasiun televisi, terima kasih ini diangkat. Dalam cuplikan reality show tersebut salah seorang Bapak yang bekerja di sebuah loket stasiun mengatakan bahwa beliau sudah puluhan tahun kerja disana, namun jarang sekali/tidak ada sama sekali ucapan terima kasih dari pengguna loket tersebut ( Maaf penulis jarang menonton TV, hanya kebetulan lihat cuplikannnya hehehe ).
Ok…kita kembali pada persoalan kata “terima kasih” ini. Di dalam Islam, sangat di tekankan masalah terima kasih tersebut, bahkan lebih dari itu adalah syukur. Bagaimana kita harus berterima kasih/bersyukur kepada Alloh SWT yang telah menciptkankan kita, memberi hidayah pada kita dan segenap kebaikan2 kepada kita, bagaimana kita harus berterima kasih kepada Rasul, kepada para ‘Alim, kepada orang tua kita dan lain sebagainya….
Bagaimana kita menumbuhkan kebiasaan mengucapkan terima kasih ini?.
Tentu pertama dari dalam rumah tangga, karena rumah tangga sebagaimana disampaikan oleh Rasul kita, disana adalah madrasah pertama, sekolah pertama bagi putra-putri kita. Bagaimana kita memberi contoh kepada anak kita akan ucapan terima kasih ini. Seorang Suami jangan malu mengucapkan terima kasih kepada istrinya terhadap apa yang telah istri perbuat untuk suaminya, misalnya hal yang rutinitas sekalipun, membuatkan secangkir teh misalnya. Pun demikian seorang istri jangan pelit mengucapkan terima kasih kepada suaminya. Orang tua, jangan segan-segan dan gengsi memberikan ucapan terima kasih kepada anak-anaknya. Dengan adanya tauladan dari rumah tersebut, maka anak akan terbiasa dan juga semua penghuni rumah juga demikian, untuk mengucapkan “terima kasih”.
Implikasinya bagaimana di dalam rumah tangga ? Orang yang diberikan ucapan “terima kasih” tersebut akan merasa dihargai, akan merasa dihormati, sehingga dengan adanya perasaan tersebut mereka akan melakukan aktivitasnya dengan lebih baik dari hari ke hari dan lebih dari itu, akan ikhlas dalam setiap aktivitasnya.
Ambil contoh sederhana saja. Seorang suami minta dibuatkan secangkir teh, istri membuatkan dan anak membawakan ke Bapaknya dan Bapak ( karena sudah terbiasa ) mengucapkan terima kasih kepada keduanya, baik kepada istri maupun kepada anaknya, maka secara langsung atau tidak, akan memberikan efek positif bagi semuanya. Suami akan sentiasa dihormati, anak merasa dihargai dan juga istri demikian tidak di sia-siakan jerih payahnya membuat teh tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian, janganlah pelit mengucapkan “terima kasih” tersebut terhadap apapun bantuan yang diberikan orang lain terhadap kita, walaupun sangat ringan dan kecil. Didalam dunia kerja juga sama. Seorang atasan janganlah gengsi untuk mengucapkan terima kasih terhadap bawahannya, demikian juga sebaliknya.
Jika seorang bawahan telah melakukan sesuatu, walaupun hasilnya kurang dari memuaskan, apalah salahnya seorang atasan mengucapkan ‘terima kasih’, walaupun setelah itu ada tambahan pembicaraan karena pekerjaannya kruang memuaskan ?. Coba kita bayangkan, bagaimana jerih payahnya seorang bawahan berusaha sekuat tenaga yang dia mampu untuk melakukan perintah atasannya dan karena “keterbatasannya”, pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan yang di inginkan oleh atasannya, namun seorang atasan tanpa rasa gengsi dan malu mengucapkan misalnya ” terima kasih atas bantuannya yah, namun mash perlu sedikit diperbaiki, misalnya ini..itu dstnya “. Sehingga dengan ucapan tersebut, InsyaAlloh bawahan akan semakin berusaha untuk bekerja lebih baik dan lebih baik ( bukannya setiap orang perlu belajar ? tidak lantas tahu, bukan ? ).
Dalam hal ini, InsyaAlloh akan kita bahas sendiri mengunai ” Reward dan punishment”.
Yang sering sekali penulis temua, terutama dalam dunia kerja adalah seringnya mengabaikan ucapan ini, dan fatal sekali jika dalam suatu team. Penulis akan memberikan suatu contoh kasus yang pernah penulis perhatikan spt ini:
Sebut saja dalam suatu project, dibentuk Team A yang mana isi dari team A tersebut terdiri dari Ahmad, Roy, Dedi dan Boy dan atasan/managernya adalah Mr. Taufan. Dalam team tersebut leader adalah Boy.
Setelah project tersebut selesai, maka diperlukan suatu laporang terahap manger, terhadap Mr. Taufan. Karena leader tersebut adalah Boy, maka Boy-lah yang memberikan laporan terhadap Manager. Isi laporannya, misalnya ini
” Sudah saya kerjakan project xxx dengan hasil yyyy dstnya”
Whats wrong dari kalimat diatas? sangat salah!! menurut kacamata penulis. Boy menggunakan kata saya, ini kata yang simple namun sangat fatal. Kenapa fatal ?
a. Boy melakukannya bersama Team
b. Boy tidak memberikan penghargaan terhadap Team
c. Manager akan merasa Boylah yang mengerjakannya, terutama ini kalau manager tidak di tempat dan tidak mengawasi project tersebut.
d. Kedepan, Team akan susah diajak kerjasama lagi.
Apa salahnya misalnya Boy melaporkan dengan kalimat ” Sudah kami kerjakan project xxx dengan hasil yyy dan terima kasih kepada team atas bantuan dan kerja kerasnya sehingga project dapat terlaksana”, jika diperlukan juga sebutkan nama masing2 team, misalnya “terima kash kepada Pak Ahmad, Pak Roy dan pak Dedy “.
Coba anda bayangkan dari 2 laporan tersebut ? maka itu sangat berbeda dan implikasinya pun akan berbeda.
Ini juga yang pernah ditanyakan oleh seorang teman kepada penulis, pertenyaan sederhana tapi jawabnya susah😀
Dia bertanya begini ” Kenapa yah, si A, si B , si C ( anak buah dia ) kalau di suruh kok ogah-ogahan malah “tidak patuh” dan terkesan malas, sedang kalau di suruh oleh si X misalnya cepat walau tidak ada reward materi ? )
Kalau penulis telusuri ( karena penulis memberikan jawaban harus tahu dulu permasalahannya ), ternyata teman penulis itu “pelit” sekali mengucapkan “terima kasih” dan sering kali menggunakan kata “Saya” dalam setiap laporan kepada managernya, walau pekerjaan2nya tersebut team yang membantu dan bahkan team yang mengerjakan dia hanya menyuruh, tapi dalam laporannya selalu menggunakan kata “saya”.
Ya tentu pantas kalau teamnya merasa ogah2an kalau dia suruh lagi, wong kamu seperti itu ” itu yang penulis sampaikan pada teman penulis tersebut”.
Walau kita sadari tidak semua orang itu baik, kita mesti belajar sebagaimana penulis selalu belajar dari hari kehari dari waktu kewaktu, tidak ada yang sempurnah didunia ini, kecuali Alloh dan RasulNya ( kesalahan2 Rasul langsung di koreksi oleh Alloh SWT dan tidak ada kesalahan yang fatal tentunya).
Ok….itu dulu, InsyaAlloh disambung hehehehe…

Wassalamu’alaikum Wr Wb,
Saudi Arabia

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s