Menyikapi perbedaan pendapat

Assalamu’alaikum Wr Wb,
Sering kita lihat di dalam kehidupan masyarakan kita, bahwa perbedaan pendapat yang masih menjadikan ikhtilaf di kalangan ulama’ menjadi pemicu suatu perpecahan di kalangan ummat ini, terjadinya saling menghujat dan bahkan sampai pertengkaran. Ini cukup disayangkan, karena energi kita habis hanya untuk mengurusi hal-hal seperti ini. Memang….hal ini tidak lepas dari skenario penjajah sejak jaman penjajahan di negeri kita ini, yang mana waktu itu tafsir-tafsir Al-Quran tidak boleh masuk, materi-materi hadist nabi juga tidak boleh diajarkan, yang beredar adalah masalah fiqh, itu yang dikembangkan dan yang selalu menjadi pembelajaran….ya tadi, perbedaan-perbedaan. Kenapa penjajah melakukan taktik sedemikian rupa…….Jelas, ini untuk melemahkan semangat jihad kaum muslimin, jika kaum muslimin benar2 tahu Al-Quran dan Sunnah dengan sebenar-benarnya, maka yang terjadi penjajah akan secepatnya habis, mereka memahami ini.
Hal inilah yang juga penulis alami beberapa hari yang lalu dengan seorang teman penulis, ya…dari percakapan ringan berujung dengan “perdebatan” seputar khilafiyah ini. Penulis sampaikan bahwa waktu itu yang terjadi adalah DEBAT KUSIR, karena masing-masing kami, belum cukup punya ilmu untuk berdebat masalah agama, diantara kami tidak ada yang bisa bahasa Arab, tidak tahu rujukan kitab, apalagi sampai memahami Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW…
Perdebatan waktu itu adalah septur ” Hadiah Pahala kepada orang yang sudah mati”. Ya….memang ada perbedaan diantara kami waktu itu, yang mana penulis sebagaimana ilmu penulis yang jauh sekali dan sangat kecil berpendapat bahwa pahala tersebut sampai, sedang teman penulis menggap tidak sampai dan bahkan hal itu bid’ah. Yang menjadi sorotan daripada penuls terhadap stetement teman tersebut adalah kalimat dia, kurang lebihnya begini ” Saya juga waktu jahil dulu, yaitu pada saat ada di xxx, berpendapat demikian. Saat ini baru sadar akan kekeliruan tersebut”. sebut saja xxx tersebut adalah salah satu organisasi terbesar di negeri ini. Penulis sampaikan waktu itu, bahwa hal ini masih ikhtilaf dan Wallahu’alam siapa yang benar, karena yang berbeda itu bukan sembarang orang, tapi para Ulama’ besar dan mengatakan bahwa jahiliyah dulu waktu di xxx adalah suatu ungkapan yang provokatif dan kurang bijak.
Dalam menyikapi suatu perbedaan pendapat seperti diatas dan juga perbedaan pendapat yang lain, misalnya qunut subuh, jari di goyang-goyangkan, bacaan bismillah dikeraskan atau tidak, jumlah taraweh dan yang lainnya, kita harus benar-benar ikhlas menerima perbedaan pendapat itu dengan hati yang lapang, karena bagaimanapun perbedaan tersebut adalah keniscayaan. Agar kita dapat ikhlas dan lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang masih bersifat ikhtilaf dikalangan ulama’, maka kita harus banyak belajar, jangan sampai taklid buta terhadap satu pendapat. Karena para ulama 4 mazhab sekalipun sangat bijak dalam menyikapi perbedaan-perbedaan pendapat diantara mereka. Ada pendapat dari mereka ” Menurut kami pendapat kami yang benar, tapi boleh jadi pendapat orang lain yang benar, dan menurut orang lain benar, boleh jadi pendapat kamilah yang benar”. ” jika ada hadist shahih yang bertentangan dengan pendapat kami, maka ambillah hadist tersebut dan buang pendapat kami”. ” Hadist Nabi SAW adalah mazhab kami” dan banyak ungkapan-ungkapan dari ulama’ yang semisal dari yang diatas.
Ungkapan tersebut menunjukkan betapa dalamnya ilmu mereka, tidak seperti kita, yang masih sangat sedikit sekali ini mengetahui agama, tapi merasa sudah cukup dan seperti laya’nya ulama’ besar, Naudzubillah.
Ya.. Seperti kata banyak orang, kalau orang yang baru belajar ilmu silat dan ilmunya misalnya, baru tahu kuda2 dan jurus-1, maka yang terjadi, dia akan petentang-petenteng, seakan-akan dialah sang juara, dialah pesilat tangguh yang tidak ada duanya dimuka bumi. Beda dengan gurunya, yang benar2 paham dengan silat tersbut, maka yang terjadi malah tidak ditanpakkan pengetahuan silatnya, dia akan berjalan selayaknya orang berjalan, bertutur kata selayaknya orang bertutur kata bahkan dengan sikap yang tawadu’ jauh dari sikap sombong karena kemahiran bersilat, misalnya.
Kembali ke pokok permasalahan, banyak sekali leteratur, yang mana penulis hanya bisa copot sana copot sini, semoga apa yang penulis pastekan dibawah adalah kebenaran, jika misalnya ada kesalahan ( karena penulis hanya mengutip ), mohon sekiranya saudara seIman mengoreksinya.
Seperti kutipan berikut tentang hadiah pahala:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa bad.

Mengirim Pahala Buat Orang Yang Meninggal

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdo’a dan menghadiahkan pahala
ibadah kepada orang yang telah meninggal dunia. Masalah ini seringkali
menjadi titik perbedaan antara berbagai kelompok masyarakat. Dan tidak
jarang menjadi bahan perseteruan yang berujung kepada terurainya benang
persaudaraan.
Seandainya umat Islam ini mau duduk bersama mengkaji semua dalil yang ada,
seharusnya perbedaan itu bisa disikapi dengan lebih dewasa dan elegan.

Kita akan mempelajari tiga pendapat yang terkait dengan masalah ini
lengkap dengan dalil yang mereka pakai. Baik yang cenderung mengatakan
tidak sampainya pahala kepada orang yang sudah wafat, atau yang mengatakan
sampai atau yang memilah antara keduanya. Sedangkan pilihan anda mau yang
mana, semua kembali kepada anda masing-masing.

1. Pahala Tidak Bisa Sampai

Orang mati tidak bisa menerima pahala ibadah orang yang masih hidup. Dalil
atau hujjah yang digunakan adalah berdasarkan dalil:

`Yaitu bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain
dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya` (QS. An-Najm:38-39)

`Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu
tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan` (QS.
Yaasiin:54)

`Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya`. (QS. Al Baqaraah 286)

Ayat-ayat diatas adalah sebagai jawaban dari keterangan yang mempunyai
maksud yang sama, bahwa orang yang telah mati tidak bisa mendapat tambahan
pahala kecuali yang disebutkan dalam hadits:

`Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga
hal: Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo’akannya atau ilmu yang
bermanfaat sesudahnya` (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan
Ahmad).

Bila Anda menemukan orang yang berpendapat bahwa orang yang sudah wafat
tidak bisa menerima pahala ibadah dari orang yang masih hidup, maka dasar
pendapatnya antara lain adalah dalil-dalil di atas.

Tentu saja tidak semua orang sepakat dengan pendapat ini, karena memang
ada juga dalil lainnya yang menjelaskan bahwa masih ada kemungkinan
sampainya pahala ibadah yang dikirmkan / dihadiahkan kepada orang yang
sudah mati.

2. Ibadah Maliyah Sampai Dan Ibadah Badaniyah Tidak Sampai

Pendapat ini membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah. Pahala
ibadah maliyah seperti shadaqah dan hajji, bila diniatkan untuk
dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal akan sampai kepada mayyit.

Sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Alqur’an tidak
sampai. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi’i
dan pendapat Madzhab Malik.

Mereka berpendapat bahwa ibadah badaniyah adalah termasuk kategori ibadah
yang tidak bisa digantikan orang lain, sebagaimana sewaktu hidup seseorang
tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain. Hal
ini sesuai dengan sabda Rasul SAW:

`Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain, dan
seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain,
tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum` (HR
An-Nasa’i).

Namun bila ibadah itu menggunakan harta benda seperti ibadah haji yang
memerlukan pengeluaran dana yang tidak sedikit, maka pahalanya bisa
dihadiahkan kepada orang lain termasuk kepada orang yang sudah mati.
Karena bila seseorang memiliki harta benda, maka dia berhak untuk
memberikan kepada siapa pun yang dia inginkan. Begitu juga bila harta itu
disedekahkan tapi niatnya untuk orang lain, hal itu bisa saja terjadi dan
diterima pahalanya untuk orang lain. Termasuk kepada orang yang sudah
mati.

Ada hadits-hadits yang menjelaskan bahwa sedekah dan haji yang dilakukan
oleh seorang hamba bisa diniatkan pahalanya untuk orang yang sudah
meninggal. Misalnya dua hadits berikut ini :

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia
ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk
bertanya:` Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang
saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat
baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:` saksikanlah bahwa kebunku
yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya` (HR Bukhari).

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi
SAW dan bertanya:` Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum
terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya ?
rasul menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang,
apakah kamu membayarnya ? bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih
berhak untuk dibayar (HR Bukhari)

3. Semua Jenis Ibadah Bisa Sampai

Do’a dan ibadah baik maliyah maupun badaniyah bisa bermanfaat untuk mayyit
berdasarkan dalil berikut ini:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka
berdo’a :` Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudar-saudar kami yang
telah beriman lebih dahulu dari kami` (QS Al Hasyr: 10)

Dalam ayat ini Allah SWT menyanjung orang-orang yang beriman karena mereka
memohonkan ampun (istighfar) untuk orang-orang beriman sebelum mereka. Ini
menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat manfaat dari istighfar
orang yang masih hidup.

a. Shalat Jenazah.

Tentang do’a shalat jenazah antara lain, Rasulullah SAW bersabda:

`Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW –
setelah selesai shalat jenazah-bersabda:` Ya Allah ampunilah dosanya,
sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat
tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air
embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih
dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari
tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan
yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan
siksa neraka` (HR Muslim).

b. Doa Kepada Mayyit Saat Dikuburkan

Tentang do’a setelah mayyit dikuburkan, Rasulullah SAW bersabda:

Dari Ustman bin ‘Affan ra berkata:` Adalah Nabi SAW apabila selesai
menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda:` mohonkan ampun untuk
saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang
ditanya` (HR Abu Dawud)

c. Doa Saat Ziarah Kubur

Sedangkan tentang do’a ziarah kubur antara lain diriwayatkan oleh ‘Aisyah
ra bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW:

`Bagaimana pendapatmu kalau saya memohonkan ampun untuk ahli kubur ? Rasul
SAW menjawab, `Ucapkan: (salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada ahli
kubur baik mu’min maupun muslim dan semoga Allah memberikan rahmat kepada
generasi pendahulu dan generasi mendatang dan sesungguhnya -insya Allah-
kami pasti menyusul) (HR Muslim).

d. Sampainya Pahala Sedekah Untuk Mayit

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia
ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk
bertanya:` Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang
saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat
baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:` saksikanlah bahwa kebunku
yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya` (HR Bukhari).

e. Sampainya Pahala Saum Untuk Mayit

Dari ‘Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:` Barang siapa yang
meninggal dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka keluarganya
berpuasa untuknya` (HR Bukhari dan Muslim)

f. Sampainya Pahala Haji Badal Untuk Mayit

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi
SAW dan bertanya:` Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum
terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya ?
rasul menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang,
apakah kamu membayarnya ? bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih
berhak untuk dibayar (HR Bukhari)

g. Membayarkan Hutang Mayit

Bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan
keluarga. Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin
untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah
membayarnya nabi SAW bersabda:

Artinya:` Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya` (HR Ahmad)

h. Dalil Qiyas

Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada
saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ad halangan sebagaimana tidak
dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan
membebaskan utang setelah wafatnya. Islam telah memberikan penjelasan
sampainya pahala ibadah badaniyah seperti membaca Alqur’an dan lainnya
diqiyaskan dengan sampainya puasa, karena puasa dalah menahan diri dari
yang membatalkan disertai niat, dan itu pahalanya bisa sampai kepada
mayyit. Jika demikian bagaimana tidak sampai pahala membaca Alqur’an yang
berupa perbuatan dan niat.

Menurut pendapat ketiga ini, maka bila seseorang membaca Al-Fatihah dengan
benar, akan mendatangkan pahala dari Allah. Sebagai pemilik pahala, dia
berhak untuk memberikan pahala itu kepada siapa pun yang dikehendakinya
termasuk kepada orang yang sudah mati sekalipun. Dan nampaknya, dengan
dalil-dalil inilah kebanyakan masyarakat di negeri kita tetap
mempraktekkan baca Al-Fatihah untuk disampaikan pahalanya buat orang tua
atau kerabat dan saudra mereka yang telah wafat.

Tentu saja masing-masing pendapat akan mengklaim bahwa pendapatnyalah yang
paling benar dan hujjah mereka yang paling kuat. Namun sebagai muslim yang
baik, sikap kita atas perbedaan itu tidak dengan menjelekkan atau
melecehkan pendapat yang kiranya tidak sama dengan pendapat yang telah
kita pegang selama ini. Karena bila hal itu yang diupayakan, hanya akan
menghasilkan perpecahan dan kerusakan persaudaraan Islam.

Sudah waktunya bagi kita untuk bisa berbagi dengan sesama muslim dan
berlapang dada atas perbedaan / khilafiyah dalam masalah agama. Apalagi
bila perbedaan itu didasarkan pada dalil-dalil yang memang mengarah kepada
perbedaan pendapat. Dan fenomena ini sering terjadi dalam banyak furu`
(cabang) dalam agama ini. Tentu sangat tidak layak untuk menafikan
pendapat orang lain hanya karena ta`asshub atas pendapat kelompok dan
golongan saja.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Akhirnya… Semoga kita sentiasa diberikan kebarokahan ‘Ilmu, keselamatan dunia dan akhirat dan menjadi pengikut Rasulullah SAW dengan sentiasa mengamalkan Al-Quran dan Assunah dalam kehidupan kita sehari-hari.

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s