Larangan Berbuat Riya’

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali (www.alislamu.com)

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
(An-Nisaa’: 142).

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Al-Maa’uun: 4-7).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai suatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu.” (Al-Baqarah: 264).

“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Dan barang siapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu teman yang seburuk-buruknya.” (An-Nisaa’: 38).

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampung dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfaal: 47).

Abu Hurairah r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah SWT berfirman, ‘Aku-lah Rabb yang tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa mengerjakan amalan, ia sekutukan Aku dengan yang lain dalam amalan itu, maka Aku tinggalkan ia dan amal syiriknya’.” (HR Muslim).

Mahmud bin Labid r.a. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Perkara yang amat aku takutkan atas kalian adalah syirik ashghar, yaitu riya’. Allah berfirman pada hari Kiamat (tatkala membalas amal perbuatan manusia), ‘Pergilah kepada orang-orang yang kalian beramal karena ingin dilihatnya di dunia. Silahkan lihat, apakah kalian mendapatkan pahala dari mereka’?” (HR Ahmad [V/428, 429] dan Baghawi dalam Syarhus Sunnah [4135]).

Diriwayatkan dari Ya’la ben Syaddad bin Aus, dari ayahnya r.a., ia berkata, “Pada zaman Rasulullah saw. kami memandang bahwa riya’ sebagai syirik ashghar.” (Shahih, diriwayatkan oleh Hakim [IV/329]).

Diriwayatkan dari Rubaih bin ‘Abdirrahman bin Abi Sa’id al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya (yakni Abu Sa’id al-Khudri r.a.), ia berkata bahwa Rasulullah saw. keluar menemui kami, sementara saat itu kami sedang membicarakan tentang Dajjal. Beliau berkata, “Maukah kuberi tahu tentang perkara yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Dajjal?” “Tentu, wahai Rasulullah!” jawab kami. Beliau berkata: “Syirik khafi (tersembunyi), yaitu seorang lelaki bangkit mengerjakan shalat lalu membaguskan shalatnya karena ia tahu ada orang yang sedang melihatnya.” (Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah [4204]).

Mahmud bin Labid r.a. berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw. keluar, lalu berkata, ‘Wahai sekalian manusia, jauhilah syirik saraa-ir (syirik tersembunyi)!’ Orang-orang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa itu syirik saraa-ir?’ Jawab beliau, ‘Seorang lelaki bangkit memgerjakan shalat lalu karena jahilnya, ia membaguskan shalatnya karena tahu orang-orang sedang melihatnya. Itulah syirik saraa-ir’.” (Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah [937] dan Baihaqi [II/290-291]).

Sulaiman bin Yasar berkata bahwa orang-orang mendatangi Abu Hurairah r.a., lalu Natil–sesepuh penduduk Syam–berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, sampaikanlah kepada kami sebuah hadits yang Anda dengar dari Rasulullah saw.” Abu Hurairah menjawab, “Baiklah, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari Kiamat nanti adalah seorang yang mati syahid. Ia dibawa ke hadapan Allah. Lalu disebutkanlah nikmat-nikmat Allah kepada dirinya dan ia pun mengakuinya. Lalu Allah berkata: ‘Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah berkata: ‘Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang supaya disebut pemberani. Begitulah kenyataannya.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret lalu dilemparkan ke neraka. Kemudian seorang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an. Ia dibawa ke hadapan Allah. Lalu disebutkanlah nikmat-nikmat Allah kepada dirinya dan ia pun mengakuinya. Lalu Allah berkata: ‘Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?’ Ia menjawab: ‘Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an karena-Mu semata.’ Allah berkata: ‘Engkau dusta, sebenarnya engkau mempelajari ilmu dan mengajarkannya supaya disebut alim. Engkau membaca Al-Qur’an supaya disebut qari. Begitulah kenyatannya.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret lalu dilemparkan ke neraka. Kemudian seorang yang Allah beri kelapangan harta. Ia dibawa ke hadapan Allah. Lalu disebutkanlah nikmat-nikmat Allah kepada dirinya dan ia pun mengakuinya. Lalu Allah berkata, ‘Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?’ Ia menjawab, ‘Tidak satu pun perkara yang Engkau anjurkan supaya berinfak di dalamnya melainkan aku infakkan hartaku karena-Mu semata.’ Allah berkata: ‘Engkau dusta, sebenarnya engkau berinfak supaya engkau disebut dermawan. Begitulah kenyatannya.’ Kemudian ia diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya lalu dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim [1905]).

Jundab bin ‘Abdillah r.a. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Siapa saja yang niatnya untuk didengar orang, maka Allah akan membongkar niatnya itu pada hari Kiamat. Dan siapa saja yang niatnya supaya dilihat orang, maka Allah akan membongkar niatnya itu pada hari Kiamat’.” (HR Bukhari [6499] dan Muslim [2987]).

Ubay bin Ka’ab r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sampaikanlah kabar gembira kepada ummat ini, berupa kedudukan yang mulia, keteguhan dalam agama, derajat yang tinggi, dan kekuasaan di atas muka bumi. Barang siapa mengerjakan amalan akhirat dengan maksud mengeruk keuntungan dunia, maka sedikit pun tidak ada baginya bagian di akhirat.” (Shahih, HR Ahmad [5/134] dan Hakim [4/318]).

Isi kandungan dalam masalah ini adalah sebagai berikut.

Celaan terhadap riya’ ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana telah disebutkan di atas. Ar-rayaa’ itu sendiri diambil dari kata ar-ru’yah. Orang yang berbuat riya’ adalah orang yang memperlihatkan amalnya kepada orang lain, tujuannya supaya mendapatkan keuntungan dari mereka atau terhindar dari celaan mereka. Berarti ia telah memperoleh balasan amalnya di dunia. Oleh karena itu, riya’ ini dapat menghapus pahala sebuah amal.
Sesungguhnya para ulama besar saja tidak kuasa menghindar dan mengatasi bahaya riya’ dan syahwat tersembunyi ini, apalagi orang-orang awam seperti kita. Sesungguhnya penyakit riya’ ini menyerang para ulama dan ahli ibadah yang sungguh-sungguh beribadah dalam menempuh jalur akhirat. Setelah mereka berhasil menundukkan hawa nafsu, meninggalkan perbuatan maksiat dan memutusnya dari syahwat serta sudah tidak bernafsu lagi melakukan dosa besar secara terang-terangan, mereka justru jatuh dalam pelukan sum’ah, riya’, dan syahawat tersembunyi. Orang-orang memandang mereka sebagai orang yang terhormat dan mulia. Jiwa mereka merasakan kelezatan yang bukan kepalang, sehingga meremehkan perkara meninggalkan perbuatan maksiat. Di antara mereka ada yang mengira dirinya termasuk hamba Allah yang ikhlas, padahal ia termasuk dalam deretan kaum munafikin. Ini merupakan ketertipuan paling besar, hampir tidak ada yang selamat darinya, kecuali hamba-hamba yang didekatkan kepada Allah. Merekalah hamba-hamba Allah yang mukhlis.

Berhubung masalah ini sangat berbahaya seperti yang telah dijelaskan di atas, maka Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita sebuah do’a untuk melindungi diri kita dari syirik besar maupun syirik kecil, yaitu riya’. Abu Ali–seorang lelaki dari bani Kaahil–berkata, “Pada suatu hari Abu Musa berkhutbah di hadapan kami, ia berkata, ‘Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, sebab syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.’ Bangkitlah ‘Abdullah bin Hazan bin al-Mudhaarib dan berkata, ‘Demi Allah, tariklah kembali ucapanmu atau kami akan melaporkannya kepada ‘Umar, diizinkan ataupun tidak!’ Abu Musa menjawab: ‘Bahkan tariklah ucapan kalian itu, pada suatu hari Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.’ Lalu ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?’ Rasulullah berkata, ‘Ucapkanlah, ‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui (sadari). Dan kami memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak kami ketahui’.” (Shahih, HR Ahmad [17/403])
Sumber: Diringkas dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 58-66.

Ya Alloh jauhkanlah kami dari berbuat tidak karenaMu, Jadikanlah kami berbuat/beribadah semata-mata ikhlas mencari ridhoMu..
Kami telah berbuat dholim terhadap diri kami sendiri, berikanlah ampunanMu dan rahmatMu…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s