Amirah Bouraba masuk Islam di usia 15 tahun

Seperti umumnya berlaku, di usia 15 tahun biasanya para remaja mulai tertarik kepada lawan jenisnya. Lalu pacaran, jalan bareng dan aktifitas muda-mudi lainnya. “Aku tidak mau munafik. Jujur saja aku dulu juga salah satu dari mereka. Ya seperti muda-mudi umumnya, pokoknya happy. Tapi kini setelah mengenal Islam, aku musti berpikir lebih jauh lagi tentang hidup ini. Tentu hidup tak bisa terus seperti ini. Aku musti tahu apa tujuan hidup ini,” kisah Amirah Bouraba, remaja Inggris yang memeluk Islam tahun 2003 silam atau tepat di usianya yang masih belia, 15 tahun. Ketertarikannya kepada Islam disebabkan pertemanan dengan anak-anak Asia. Berikut kisah wanita yang saat ini menekuni kuliah Understanding Islam and Moslem di Oxford University, Inggris seperti diceritakannya di beberapa situs.

***

“Kala itu aku sedang duduk di tahun terakhir di sekolah menengah atas. Kawan-kawanku kebanyakan berdarah Asia, seperti India, Pakistan dan Bangladesh. Nah salah satu dari mereka adalah teman akrabku. Aku tak pernah tanya latar belakang agama mereka karena memang aku tak begitu peduli dengan latar belakang agama seseorang,” tulis Amirah di awal kisahnya.

Hingga satu hari, dia diberitahu oleh salah seorang rekannya bahwa teman Asianya itu memutuskan untuk mengenakan jilbab. Amirah luar biasa terkejut. Sebab dia tidak tahu gadis Asia itu ternyata seorang muslimah! Amirah mengaku luar biasa takjub. Islam, sebelumnya, praktis tak pernah ada dalam pikirannya.

Mulai tertarik Islam

“Tentu saja, mulai saat itu aku mulai tertarik dengan masalah ini. Aku tanya kenapa baru sekarang dia cerita dan kenapa musti pake jilbab. Pernah kawanku itu sampai mengeluarkan kata yang lumayan keras sebab aku banyak tanya. Tapi aku tak peduli, kendati dianggap pertanyaanku itu bodoh,“ tukas dia.

Kejadian itu telah membuka mata Amirah. “Ternyata ada orang yang menjalankan perintah agamanya dengan penuh keyakinan. Tak menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia dan mengisi hari-hari dengan hal yang bermanfaat. Seketika itu aku menuju ke komputer untuk mencari apa Islam,” kata Amirah yang mengenal Islam pertamakali melalui internet.

Namun dia tak serta merta mengatakan iya atas semua informasi yang didapat via internet. Dia juga baru tahu ada proses lain yang namanya syahadah bagi yang ingin memeluk Islam. “Saya butuh waktu beberapa lama untuk memutuskan syahadah ini,” kata dia.

Ada cerita menarik dikala dia mulai mencoba memahami syahadah. Satu hari ketika Amirah pergi belanja ada rombongan dakwah melintas di depannya. Diapun mendekat dan bicara dengan salah seorang dari mereka. Semua anggota rombongan itu pria.

“Pria itu lalu mengundangku ke rumahnya. Dia bermaksud mengenalkanku pada istrinya. Maksudnya, biar aku bisa bicara lebih bebas dengan sesama wanita, begitu kata dia. Aku setuju dan waktu untuk bertemu pun disepakati,“ kenangnya.

Prosesi syahadah

Persis di hari pertemuan itu Amirah mendapati dirinya sedikit gugup dan hatinya berdebar tak menentu. “Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Dan persoalan yang hendak dibicarakan juga masalah sensitif menyangkut keyakinan. Dan yang buat aku nervous, bagaimana cara bicara dan apa yang musti dibicarakan. Lalu pakaian, apa aku juga musti berbusana seperti itu (berjilbab),” kenang Amirah.

Tapi ketika berjumpa semua ketakutannya sirna tak berbekas. “Wanita itu sangat ramah. Pas tiba dia menyambutku dengan hangat. Senyumnya mengembang, pancaran matanya sungguh menyejukkanku. Dia mengajakku ke ruang keluarga, menyuguhiku teh dan kami berbincang layaknya sudah kenal lama. Sungguh, tak bisa dipercaya,” kisahnya lagi.

“Setelah meneguk teh hangat hidangannya, dia lalu bertanya padaku apa pandanganku tentang Islam. Spontan aku menjawab bahwa aku sangat suka Islam. Wanita ramah ini lantas tersenyum. Jadi tidak ada yang perlu ditanyakan lagi kan? Begitu kata dia,” cerita Amirah. Saat mereka asyik berbincang, tak berapa lama datang suami si muslimah tersebut.

“Bagaimana, apa kita sudah siap?,” kata sang suami pada kami. “Aku bingung. Siap untuk apa?,” tanya Amirah dalam hati. Istri si pria itu lalu menoleh padanya. “Bagaimana, apa kamu sudah siap untuk bersyahadah sekarang,” tanya muslimah itu lembut. Pertanyaannya mengejutkan Amirah. Lantas dia berpikir beberapa saat. “Baiklah, ya saya sudah siap sekarang,” ujar Amirah mantap.

Lalu si suami mengambil sebuah buku. Rupanya itu adalah Alquran. “Saya akan bacakan beberapa ayat Alquran lalu nanti saya jelaskan artinya. Setelah itu baru kita lanjutkan dengan proses syahadah,” kata suami si muslimah itu.

“Wow, aku benar-benar gugup saat itu. Hati berdebar-berdebar hingga aku berkeringat. Tak lama, setelah lima menit aku mulai rilek dan tenang lagi. Saat itu dalam hati terbetik bahwa jalan yang kutempuh ini sudah benar. Ternyata proses syahadahnya singkat dan ringkas sekali. Tak berbelit-belit. Setelah itu aku langsung pulang dan mandi seperti diinstruksikan kedua pasangan muslim itu,” tutur Amirah takjub.

Setelah menjadi seorang muslimah, rasa khawatir mulai muncul dalam diri Amirah. Khawatir dengan keluarganya, teman-temannya, apa nanti kata mereka jika mereka tahu dia sudah masuk Islam. Perlahan dia singkirkan perasaan-perasaan itu. Dia pun mulai belajar shalat. Adapun jilbab dia belum berani mengenakannya.

“Aku tidak berani cerita sama kedua orangtuaku. Cuma rekanku yang beragama Islam yang aku kabari berita ini. Mereka sangat gembira mendengarnya, lalu memberiku hadiah dan mereka senantiasa membantuku dalam memahami Islam,” kisah Amirah.

“Kala itu aku juga mulai disibukkan dengan ujian akhir sekolah. Jadi waktuku habis buat belajar, karena ini ujian penentuan. Tapi di sela-sela belajar aku tetap menyempatkan untuk menekuni tatacara shalat melalui tuntunan beberapa buah buku,” imbuh Amirah lagi.

Keluarganya turut mendukung

Menariknya, ketika dia menceritakan pada keluarga tentang keislamannya, mereka terlihat tidak terkejut sama sekali. “Surprise! Rupanya mereka berpikir itu adalah satu fase yang akan hadir dalam hidupku, yakni memilih keyakinan menurut kemauan hatiku. Nah yang lebih membahagiakanku, mereka juga mendukungku tatkala aku mulai serius mengenakan jilbab. Alhamdulillah,” kenang Amirah perihal respon keluarganya.

Di awal-awal mengenakan jilbab, Amirah merasa begitu berat sekali. Apalagi jika melihat reaksi orang-orang sekitar. Namun dia menahan semua rasa tak enak itu. Dia buang semua kekhawatiran dan rasa takut yang berlebihan. Dia berdoa pada Allah agar diberi kekuatan.

“Awalnya memang berat sekali. Bukan hanya karena jilbab itu sendiri, tapi segala tingkah laku tentu musti berubah. Misalnya aku tak boleh lagi bebas dengan laki-laki bukan muhrim, menahan pandangan, tak bisa lagi pakai make up yang berlebihan dan mencolok, dan tentu saja tak boleh lagi nampak rambut kebanggaanku ini,” tutur Amirah.

Begitupun, seperti diakui Amirah, imannya belum begitu kuat. Kadang naik kadang turun. Begitu juga dengan jilbab, dia belum begitu istiqamah. Kadangkala dia masih buka jilbab juga. Namun itu tak berlangsung lama hingga dia ketemu seseorang yang mampu merubah kehidupannya.

“Ceritanya begini, setelah lulus SMA dengan nilai baik aku lalu kerja part time di sebuah rumah sakit di kotaku. Tentu saja aku juga meneruskan kuliah. Namun, ternyata untuk bisa melakukan dua kegiatan dalam waktu yang sama tidak gampang. Karena aku butuh uang akhirnya aku cuti kuliah,“ kisahnya lagi.

Ketemu calon suami di rumah sakit

Saat bekerja di rumah sakit itu dia tidak mengenakan jilbabnya. Satu hari ketika sedang berjalan di lorong rumah sakit tanpa sengaja dia bertubrukan dengan seseorang. “Saya malu, apalagi yang saya tubruk itu ternyata seorang laki-laki. Untungnya pria itu hanya tersenyum. Saya spontan minta maaf lalu pergi,” kata Amirah.

Amirah baru tahu ternyata pria itu juga bekerja di rumah sakit. Hingga saban hari mereka jadi sering ketemu. Amirah mengaku sangat malu jika bertemu dengan pria yang pernah bersenggolan dengannya itu. Setelah beberapa lama baru dia tahu pria itu seorang muslim.

“Sejak saat itu kalau jumpa kami selalu saling mengucapkan salam. Satu hari dia mengajakku keluar minum kopi. Aku begitu gugup dan takut kala itu. Tak tahu mau bilang apa. Aku menolak ajakannya. Namun dia mengatakan nanti ada orang lain juga bersama kami, jadi tak hanya berdua saja. Dia bilang, kalau berdua-duan syetan akan mudah masuk dan merayu. Aku langsung setuju mendengar ini,“ imbuhnya.

“Di warung kami banyak berdiskui tentang Islam. Dia banyak menyinggung tentang jilbab. Nah yang paling mengejutkan, dia tanya apakah aku mau jadi istrinya,” tutur Amirah mengingat kesan pertama diskusi dengan orang yang di kemudian hari jadi suaminya itu. Amirah tak memberi jawaban. Dia butuh waktu untuk berpikir.

Sore harinya, masih di hari yang sama, Amirah menerima panggilan telepon dari seseorang. “Ternyata pria di rumah sakit itu. Dia serius ingin melamar saya dan menanyakan apa aku siap. Entah bagaimana, spontan aku jawab iya,” ungkap Amirah.

Menikah

Begitulah, tanpa proses yang rumit akhirnya merekapun melangsungkan pernikahan. Amirah mengaku selepas menikah imannya makin mantap. Kepercayaan dirinya juga meningkat tajam.

“Suamiku itu sangat banyak membantu hingga aku bisa berjilbab secara istiqamah sampai hari ini. Allah telah mengirimku seorang yang sangat berarti dalam hidup ini, yang mampu menjaga keimananku. Alhamdulillah,” ujarnya bersyukur. Syukurnya lagi keluarga Amirah juga menyukai pria yang telah jadi suaminya itu karena akhlaknya yang baik.

“Islam telah merubah seluruh kehidupanku. Aku sangat bahagia hari ini. Karena aku bisa mengisi kehidupan ini dengan hal dan tujuan yang jelas. Namun masih banyak bukit yang musti kudaki. Jalan masih panjang. Banyak dari Islam yang belum kupelajari. Apalagi kini aku sudah punya momongan. Safia, putri tersayangku yang lahir 2007 silam, kini menemani hari-hari indah kami,” kata Amirah lagi.

Amirah, kini, di sela-sela mengasuh putrinya juga meneruskan kuliahnya di Oxford University menekuni bidang Understanding Islam and Muslim. Waktu luangnya juga diisi dengan menjadi guru di sekolah dasar islam. Dia juga ikut mengisi acara Islam di sebuah saluran televisi dalam program yang disebut “City Sisters”.

“Begitulah kesibukanku kini. Mengasuh anak, kerja dan kuliah. Malam hari adalah waktu bagiku untuk mendalami Islam. Internet sangat membantuku, karena bisa mengikuti kursus keislaman secara online,“ kata dia.

“ Mungkin kisahku ini tidak begitu menarik, tapi aku harap bisa menjadi pelajaran bagi lainnya yang punya situasi dan kondisi yang mungkin mirip. Semoga jadi inspirasi dan menambah kepercayaan diri bagi yang baru mengenal Islam,” harap Amirah menutup kisahnya. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s