TERIAK..!!

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama.
Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya
siswa-siswi disana.
Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai
dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius,
sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang
tampil terbaik dalam pentas.
Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut
hadir dan menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil
dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap
dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan,
dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak
pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian
peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat
anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu
menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap
terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti,
sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak
mendapat hadiah.
Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka
terpilih menjadi pemain drama yang terbaik.
Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan
menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas
panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut
berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia
menyebutkan sebuah nama. Ahha…ternyata, anak yang
menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara.
Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira.
“Aku menang…”, begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju
panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga.
Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling,
menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah,
ia sedikit bertanya kepada sang “jagoan, “Nak, kamu memang
hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai
seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya,
sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti
latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik..” tanya
Pak Guru, “Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang
bisa membuat kamu seperti ini..”.

Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya Pak.
Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah
saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak
dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru
perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan
hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah.”
Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai
melanjutkan, “..Ayah membesarkan saya dengan cara seperti
ini, jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat saya…”

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap.
Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka
tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga,
kini keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai
terdakwa, di muka pengadilan.
Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan
dalam perilaku mereka.

***

Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya.
Setiap anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi
salah satu dari kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan
kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan
berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok
cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca pada semua hal
yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang
merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam
hamparan perilaku yang mereka perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal.
Baik, buruk, terpuji ataupun tercela, di munculkan dengan
sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu juga menjadi
ayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah
juga pancaran sejati terhadap setiap benda di depannya.
Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau mengoyak
ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk.
Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri
kita sendiri?

Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua,
“berteriaklah kepada anak-anak kita saat kita marah,
maka, kita akan membesarkan seorang pemarah.
Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah,
maka kita akan membesarkan seorang pembenci,
dan biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja
saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan
seorang yang penuh dengki…”

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak
kita saat ini?
Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini?
Dan panutan apakah yang sedang kita tampilkan?
Teman, percayalah, mereka akan selalu belajar dari kita,
dari orang yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya.
Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka belajar,
menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru
dalam berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat
seorang anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang.
Saya berharap menjadi orang yang ikhlas, saat melihat
mereka memecahkan piring makan mereka sendiri.
Sebab, bukankah mereka baru “belajar” memegang gelas dan
piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya
sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh waktu untuk
bisa seperti kita.
Teman, terima kasih telah membaca. Hope you are well
and please do take care.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s